Berita Hawzah – Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Zafar Hasan Naqvi, Sekretaris Jenderal Pusat Majelis Persatuan Muslim Pakistan, dalam pernyataannya mengatakan bahwa mereka yang sejak awal kemenangan Revolusi Islam Iran memimpikan keruntuhannya, selalu berakhir dengan kehinaan dan kekalahan, dan nasib yang sama akan terulang di masa depan.
Ia menegaskan bahwa pada 11 Februari 1979, impian Imam Khomeini (ra) berubah menjadi sebuah realitas yang tak terbantahkan di hadapan dunia. Sejak saat itu hingga kini, kekuatan kolonial dan sekutu-sekutunya berulang kali meramalkan berakhirnya Revolusi Islam, namun setiap kali kegagalan justru menjadi bagian mereka.
Penyebaran Isu dan Peran Media Terkait
Dalam lanjutan pernyataannya, ia menyinggung kondisi saat ini dengan mengatakan bahwa hari ini sekali lagi pemerintahan-pemerintahan boneka dan media bayaran, dengan bersandar pada rumor dan berita palsu, melancarkan kampanye luas melawan Iran. Bahkan, berita-berita yang menggelikan, seperti isu Pemimpin Revolusi Islam akan meninggalkan negara, dipublikasikan sebagai kabar yang seolah-olah kredibel.
Menurutnya, tindakan-tindakan tersebut menunjukkan puncak keputusasaan dan kebingungan musuh-musuh revolusi yang, dalam permusuhan buta, justru menghancurkan masa depan mereka sendiri.
Iran, Benteng Terakhir Perlawanan terhadap Kolonialisme
Sekretaris Jenderal Majelis Persatuan Muslim Pakistan menegaskan bahwa Republik Islam Iran merupakan benteng terakhir dan paling kokoh dalam menghadapi kolonialisme global. Ia memperingatkan bahwa apabila – na‘udzubillah – benteng ini mengalami kerusakan, maka seluruh dunia Islam akan menjadi tak berdaya di hadapan kekuatan Zionis.
Ia menambahkan bahwa media-media yang menerima keuntungan finansial dan politik dari Amerika Serikat dan rezim Zionis, secara alami akan bergerak dalam kerangka kepentingan tersebut untuk mempropagandakan dan membesar-besarkan berbagai konspirasi.
Dalam bagian lain dari pernyataannya, ia menekankan peran sentral Pemimpin Besar Revolusi Islam, seraya mengatakan bahwa Pemimpin Revolusi saat ini bukan hanya pemimpin sebuah negara, melainkan simbol keberanian, keteguhan, dan harapan bagi seluruh kaum tertindas di dunia.
Upaya Melemahkan Poros Perlawanan
Ulama asal Pakistan ini juga menyinggung perkembangan regional dengan mengatakan bahwa terdapat upaya-upaya terorganisir untuk melemahkan gerakan perlawanan di Suriah, Lebanon, Yaman, dan Irak. Ia menyayangkan bahwa sebagian kalangan justru menyambut perkembangan tersebut dengan gembira dan mengira Iran sedang menuju kelemahan, padahal realitasnya sama sekali bertentangan dengan klaim-klaim tersebut.
Ia juga menyinggung intervensi terbuka Amerika Serikat di berbagai negara, termasuk Venezuela, dan menyebut tindakan-tindakan tersebut sebagai contoh nyata pemaksaan kehendak dan dominasi global. Namun demikian, ia menegaskan bahwa meskipun fakta-fakta ini begitu jelas, reaksi serius dan berani dari komunitas internasional masih sangat minim.
Your Comment